[IND] Spine Journey: Operasi Skoliosis

Hello, melalui tulisan ini, saya ingin sekali berbagi cerita dengan teman-teman sesama pejuang skoliosis, khususnya yang akan menjalani operasi. Sebenarnya, saya telah menerbitkan tulisan ini satu tahun lalu, tepat di bulan ke-2 dan hari ke-10 pasca operasi skoliosis dengan DR. dr. Luthfi Gatam, Sp.OT, (K)Spine di Rumah Sakit Premier Bintaro (“RSPB”). Namun, atas permintaan beberapa teman, saya akan menuliskan versi Bahasa Indonesia agar lebih ringan dan mudah dibaca. Terima kasih atas dukungan teman-teman selama ini dan selamat membaca 🙂

Sebelum Operasi

Singkat cerita, saya menemukan bahwa saya memiliki skoliosis S-curve dengan kelengkungan 40 derajat di umur 13 tahun. Dokter spesialis ortopedi menyarankan saya untuk memakai brace yaitu semacam penyangga tubuh yang terbuat dari bahan sejenis plastik yang keras, selama 23 jam / hari. Sulit untuk mengingat perasaan saya saat memakai brace tersebut. Sesuatu yang saya bisa pastikan adalah ketidaknyamanan selama jam sekolah. Kebayang kan, panasnya bahan plastik dan capeknya menahan tubuh agar tetap tegak saat banyaknya aktivitas di sekolah. Ditambah, saya mulai merasa insecure because I was a teenager back then. Bagaimanapun, saya harus tetap memakai brace untuk meminimalisir penambahan kelengkungan.

Saya merasa skoliosis tidak begitu mengganggu, sehingga saya jarang memakai brace saat telah menginjak Sekolah Menengah Atas. Sebagai alternatif, saya sering berenang. Menurut saya saat itu, skoliosis tidak akan menghentikan saya untuk mengikuti kegiatan non-akademis. Saya tergabung dalam grup musik, klub seni dan cheerleading. Saya bahkan pergi hiking dan rafting. Saya terlalu semangat sampai tidak ingat bahwa penderita skoliosis tidak boleh membawa beban berat, seperti yang saya lakukan saat cheerleading, hiking dan rafting.

Saat saya diterima di universitas pada tahun 2010, sakit di tulang belakang saya semakin memburuk. Orang tua saya selalu menemani saya mencari berbagai terapi termasuk chiropractic, yang ternyata tidak membantu sama sekali. Pada saat itu, kelengkungan telah mencapai >50 derajat. Kondisi fisik saya menjadi kurang baik. Saya cepat sekali merasa lelah sehingga saya tidak punya banyak waktu untuk aktivitas non-akademis seperti peers saya. Skoliosis mempengaruhi pernapasan, organ-organ dalam, sakit pada leher dan kepala serta kemampuan melakukan apapun. Skoliosis bukan hanya tentang postur tubuh atau tulang belakang. Saya kerap berkonsultasi kepada beberapa dokter ortopedi yang menyarankan hal yang sama: operasi.

Saya dulu takut dengan kata-kata operasi, karena sudah jelas bahwa punggung akan dibedah dari thoracal sampai lumbar, lalu dipasang skrup dan pen titanium. Saya tahu bahwa gerak tubuh saya akan terbatas dengan operasi. Ditambah, membayangkan rasa sakit pasca operasi yang seharusnya berkali-kali operasi patah tulang selangka saya dahulu dan sakit akibat skoliosis yang saya alami setiap hari.

Setelah lulus di tahun 2013, saya diterima di suatu pekerjaan yang bisa dibilang long-hour job dan sering traveling. Selain itu, saya mengambil kelas keuangan di luar kantor dan mempersiapkan pendidikan master. Saya bersikeras bahwa skoliosis tidak akan menghentikan saya melakukan kesibukan, meskipun mempertahankan kelengkungan as is sangatlah sulit. Saya mengalami sakit kepala hebat yang mengakibatkan saya meminum obat sakit kepala setiap hari. Saya mengkonsumsi painkiller hampir setiap hari untuk meredakan nyeri di punggung. Saya pun seringkali mengalami sesak napas. Hidup saya sangat tidak sehat saat itu. Tak dapat dipungkiri, saya menghabiskan pagi selama tiga tahun untuk berpikir: “Apakah saya akan bertahan sehari saja jika tidak minum obat-obatan?” atau “Kapan saya akan berhenti menyembunyikan postur tubuh saya yang sebenarnya hanya agar terlihat normal?”

Di waktu luang saya, saya secara konsisten berlatih pilates tiga kali seminggu dan berenang dua kali seminggu. Jika tidak, punggung, tangan dan kaki saya akan terasa kaku dan sakit. Sedikit tips ya untuk teman-teman skoliosis; yoga, pilates, dan berenang adalah olahraga yang sangat baik untuk pain management dengan catatan untuk dilakukan dengan teacher yang berpengalaman. Studio pilates favorit saya adalah Pilates@Kemang di Colony Kemang. Teacher pilates saya, Mba Dini dan Mas Kiko, sangat suportif terhadap perjuangan saya melawan skoliosis. Mereka mempelajari perilaku tubuh saya sehari-hari dan membantu saya untuk menyesuaikannya dengan posisi yang benar.

Sayang sekali, saya tidak merasakan perubahan apapun pada tulang belakang saya. Saya mulai mencari-cari lagi dokter bedah ortopedi di bilangan Jakarta, tapi belum ada yang cocok karena mostly suka ‘asal’ atau menakut-nakuti dan malah bikin saya stress. Sampai di akhir tahun 2016, saya bertemu DR. dr. Luthfi Gatam Sp. OT (K) Spine di Rumah Sakit Pondok Indah (“RSPI”).

Teman-teman skoliosis mungkin sudah tau ya beliau itu siapa. Saya masih ingat antrian yang panjang, dimana saya tetap saja buka laptop agar menunggu sembari bekerja. Saya selalu dapat waiting list tapi nekat datang biar ketemu beliau. Hal pertama yang saya lihat adalah hasil radiologi di layar komputer. Saya bingung harus berkata apa, tapi mungkin perasaan yang meggambarkan adalah antara shocked dan sedih. Untungnya, Dr. Luthfi tenang sekali dan penjelasannya terperinci. Beliau gak nakut-nakutin dan punya attitude optimis. Dextroscoliosis lower thoracic mencapai 63 derajat dan sinistroscoliosis upper lumbar mencapai hampir 80 derajat. Bukan hanya double curve, tapi di bagian lumbar juga ada rotasi. Selain itu, pinggul kanan lebih tinggi posisinya dari pinggul kiri sebesar 2 cm.

Saat itu, saya masih maksa minta core muscle strengthening program dan cerita ketakutan saya tentang resiko operasi. Dr. Luthfi sabar sekali mendengarkan dan mengedukasi saya bahwa skoliosis >50 derajat tidak bisa dikoreksi dengan exercise. Apalagi umur saya sudah 23 tahun yang berarti tulang saya sudah mature. Berulang kali, beliau menyarankan agar sesegera mungkin diambil tindakan. Entahlah, tanpa berpikir saya mengiyakan beliau. Itu adalah keputusan ter-mendadak selama 10 tahun saya menderita skoliosis, tapi firasat saya ini akan menjadi jalan terbaik. Mungkin karena sudah cocok sama dokternya juga ya, dari dulu sudah cari beberapa dokter tapi belum ada yang nyambung diskusinya. Dr. Luthfi meminta saya untuk mengajak orang tua saya ke kunjungan berikutnya.

Selanjutnya, saya meminta diberi rujukan ke rehabilitasi medik di RSPI dengan dr. Laura Djuriantina. Saya disarankan untuk fisioterapi dan hydrotherapy dua kali / minggu di klinik Dharma Daya Lestari. Sangat disayangkan saya baru mengenal hydrotherapy setelah skoliosis saya tergolong parah. Terapi ini ditujukan untuk pain management dan mencegah penambahan kelengkungan. Jadilah sebelum operasi, saya berlatih pilates 3x, berenang 2x, fisioterapi 1x dan hydrotherapy 1x dalam satu minggu, selama 2 bulan.

Antrian poli ortopedi di RSPI sangat panjang. Oleh karena itu, saya mengunjungi Dr. Luthfi di RSPB untuk appointment operasi. Resmilah tanggal operasi skoliosis saya pada 20 Desember 2016.

Setelah Operasi

Minggu, 18 Desember 2016 – Saya check in ke ruang rawat inap saya di RSPB untuk melakukan pemeriksaan dan observasi pre-ops. Hari itu, saya sedang menderita flu dan demam yang berat, karena hari sebelumnya saya baru pulang dari Jepang. Suhu udara di Jepang sangat dingin sehingga imunitas saya menurun. Untuk teman-teman yang berencana melakukan operasi besar seperti operasi skoliosis, jangan ditiru ya!

IMG-0088 copy

Senin, 19 December 2016 – Orang tua saya diundang ke pre-surgery meeting dengan kurang lebih 15 dokter terkait. Sementara itu, saya membaca dan menandatangani dokumen persetujuan operasi. Saya cukup nervous saat membaca bagian resiko operasi, tetapi saya hanya mau berpikir positif. Saya melakukan pengecekan organ-organ dalam dan darah. Pada saat itu, kondisi saya belum feasible untuk operasi. Saya mengalami pengentalan darah dan anemia, sehingga perlu ditransfusi terlebih dulu agar hemoglobin meningkat dari 9 ke 12. Lalu, persediaan darah untuk operasi besok kurang memadai dan kami perlu mencari tambahan darah semalam suntuk. Untungnya, semua dapat diatasi.

Selasa, 20 December 2016 – Pukul 5.00, saya dijemput ke ruangan operasi. Semua dokter sudah standby, termasuk Dr. Luthfi dan asisten beliau, Dr. Rizki. Hal terakhir yang saya ingat hanyalah obrolan santai tentang liburan saya ke Jepang. Hal berikutnya adalah… saya bangun dengan banyak selang dari tangan, leher, hidung dan mulut saya. Saya terbaring lemas dan melihat sekeliling untuk memeriksa apakah kepala saya masih bisa digerakkan. Dengan sisa kekuatan yang saya punya, saya membuka paksa selang di mulut saya karena saya sulit bernapas. Saya memeriksa apakah tangan dan kaki saya masih bisa digerakkan. Detik itu, saya benar-benar puas karena berhasil melalui bagian tersulit. Operasi tersebut telah memakan waktu 7 jam.

IMG-0232

Saya menghabiskan dua hari di Critical Control Unit (“CCU”). Bagaimana dengan rasa sakitnya? Jujur saja, bahwa sakit pasca operasi skoliosis itu berat. Saya menghabiskan waktu terbangun di malam hari karena rasa sakit yang semakin kuat. Saya diberi banyak painkiller, tetapi skala rasa sakit tetap stagnan di satu minggu pertama. Painkiller menyebabkan rasa mual dan konstipasi, sehingga pencernaan saya terganggu dan saya kehilangan appetite makan. Tapi percaya deh, rasa sakit itu tidak masalah karena semuanya akan terbayar. Akhirnya, saya hanya memiliki kurva 21 derajat di tulang belakang, didukung oleh titanium selama sisa hidup saya. Hebat, bukan?

Hari ke 4, terapis mengajari saya cara bangun dan duduk. Hari ke 5, saya diajari berdiri di atas kaki saya sendiri dan berjalan sedikit. Rasanya seperti kali pertama saya meletakkan kaki di atas bumi. Saya berjalan aneh sekali, seperti robot karena semuanya kaku, tetapi terasa luar biasa. Saya mengenang perasaan memiliki punggung lurus yang saya lupakan sejak lama. Tinggi badan saya juga meningkat 6 cm! Setelah seminggu di rumah sakit, saya diizinkan untuk pulang. Saya akan selalu berterima kasih kepada Dr. Luthfi, dr. Rizki, dr. Harmantya dan dr. Phedy karena telah merawat saya dengan sangat baik.

Rasa sakit itu bertahan sekitar satu setengah bulan. Selama masa pemulihan, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya berbaring di tempat tidur, belajar bagaimana untuk bergerak dan mengunjungi fisioterapis untuk meringankan rasa sakit. Di bulan kedua, rasa sakit berkurang secara signifikan meskipun punggung saya masih sangat bengkak. Saya masih minum obat untuk memperbaiki syaraf saya karena terkadang tangan atau kaki saya mati rasa. Saya juga memakai post-surgery brace minimal 3-4 bulan setelah operasi. Kunci pemulihan pasca operasi dari sudut pandang saya adalah sering menggerakkan tubuh untuk meringankan kekakuan dan selalu berlatih berjalan.

Kehilangan kemampuan membungkuk adalah salah satu efek samping operasi skoliosis. Larangan untuk mengangkat beban berat masih berlaku. Selain itu, saya tidak dianjurkan untuk melakukan olahraga yang memberi tekanan pada tulang belakang. Jadi, saya harus mengucapkan selamat tinggal untuk barre, dance, golf dan panahan. Sedih memang karena hal tersebut merupakan beberapa kegiatan yang membuat saya ‘feel alive‘, tapi tidak apa-apa asalkan saya masih bisa melakukan pilates dan berenang.

Saya mungkin belum menyelesaikan perjalanan saya karena saya masih memiliki perbedaan tinggi di pinggul kanan saya. Hal itu tidak bisa diperbaiki dengan satu operasi. Namun, saya sangat bersyukur atas keputusan saya. Ketika saya mengingat masa lalu, saya tidak percaya bahwa saya telah bertahan. Apapun itu, saya akan melewatinya lagi. Sebagai tambahan, saya memiliki keluarga yang luar biasa dan teman dekat yang selalu mendukung saya dalam perjuangan saya. Terima kasih telah menahan saya saat lutut saya menyerah dan saya mulai terjatuh di lantai. Terima kasih telah menjadi sepasang kaki tambahan saya saat kaki saya menolak untuk bekerja. Terima kasih.

Teman-teman skoliosis, jangan pernah malu mengenai kondisi kalian. Kalian harus terus berjuang dan memiliki keyakinan bahwa kalian akan sembuh. Tidak ada yang tidak dapat kita lakukan selama kita yakin, termasuk perjuangan kita terhadap skoliosis. Jangan pernah biarkan skoliosis menghentikan kalian mencapai mimpi kalian. Cobaan ini adalah cara Tuhan untuk membuktikan bahwa kita kuat 🙂

PS: You can check out the English Version here.

IMG_2850

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s