Spine Journey: Facet & Piriformis Syndrome

Hello, saya baru sempat menulis lagi setelah tindakan nerve block untuk menyembuhkan sacroiliac (“SI”) joint arthritis atau sendi sakroiliak saya bulan lalu karena hari-hari saya cukup intense setelah itu. Sedikit kilas balik ya, teman-teman. Jadi, setelah operasi skoliosis yang saya jalani tahun lalu, saya merasakan rasa sakit di lower back hingga ke lutut saya. Saya didiagnosis menderita SI joint arthritis, dimana setelah dua kali injeksi steroid dan nerve block, rasa sakit itu masih belum menghilang.

Dua minggu pasca nerve block, saya masih merasakan sakit dari lower back hingga ke lutut saya. Seharusnya, dua minggu adalah periode maksimum nerve block bekerja. Sebaliknya, rasa sakit saya hilang selama dua hari, tetapi sakit di paha atas sampai ke lutut muncul kembali secara progresif. Memang, gerak tubuh saya lebih efisien karena bisa dibilang sakit hanya di sumbernya yaitu SI sudah tidak begitu terasa.

Saya pun menemui Dr. Sugeng di RS Mitra Keluarga Kemayoran. Beliau menduga adanya sumber lain dari lower back, sehingga rasa sakitnya menumpuk. Saya diperiksa dengan tekanan pada sendi facet di L5-S1 dan otot piriformis. Ternyata, otot piriformis saya memang tegang sehingga mengganggu sciatic nerve (syaraf skiatik), yaitu syaraf yang berasal dari lumbar dan memanjang hingga ke kaki. Biasanya sakit ini terasa di bagian belakang kaki. Untuk menangani otot piriformis, perlu dilakukan therapeutic injection dengan steroid. Selain itu, sendi facet saya pun mengalami inflamasi, dimana untuk memastikannya saya perlu diberi diagnostic injection.

Wah, ternyata masih saja bertambah sumber sakitnya. Saya sedikit termenung. Sebelum operasi skoliosis, saya tidak pernah merasa sakit selain di punggung. Saya mendengarkan penjelasan Dr. Sugeng bahwa setelah operasi skoliosis, tubuh melakukan penyesuaian dan mencari tumpuan baru. Hal itu yang menyebabkan sendi facet, sendi SI dan otot-otot mengalami imbalance. Saya cukup terkesan dengan Dr. Sugeng. Beliau memang spesialis anestesi sekaligus pain therapist, tetapi pengetahuan ortopedi nya luas juga. Penjelasan beliau sangat rinci dan mudah dimengerti. Beliau pun sangat responsif setiap kali saya hubungi.

Oke, kali ini saya perlu injeksi steroid… lagi. Apakah sakit? Injeksi di sendi facet dan otot piriformis lebih sakit daripada di sendi SI, padahal sudah diberi anestesi lokal. Saya sampai berpikir, kok bisa ya saya merasakan rasa sesakit itu selain operasi skoliosis? Setelah tindakan selesai, Dr. Sugeng bilang bahwa prosedur injeksinya sulit sekali karena tulang saya ‘miring’ akibat skoliosis. Saya hanya tersenyum karena Dr. Luthfi pun pernah bilang begitu saat injeksi SI untuk pertama kalinya.

Saya diobservasi selama 2 minggu pasca injeksi untuk evaluasi pain level. Ternyata, rasa sakit di sendi facet, otot piriformis dan bagian belakang kaki hilang. Tetapi, sakit di sekitar sendi SI, bagian atas paha dan bagian atas kaki belum hilang juga. Saya tahu itu adalah sakit dari sendi SI, yang berarti sendi SI saya tidak stabil. Saya pun tahu bahwa jalan terakhir adalah dilakukan fusi (operasi implant titanium) untuk membuat sendi stabil kembali.

Jujur saya sedih sekali saat itu dan langsung cerita ke Dr. Luthfi. Beliau sudah pasti menyarankan fusi meskipun alat fusi belum ada di Rumah Sakit Premier Bintaro karena masih dalam proses impor. Saya bilang I don’t want another titanium, I’ve had enough. Dr. Luthfi tetap saja sabar sama saya yang suka teror. Sepertinya tidak ada jalan lain. Apabila tidak di fusi, sendi SI akan lebih sakit lagi, apalagi saat kehamilan. Berat badan akan naik karena adanya bayi di dalam perut, ditambah adanya hormon relaxin yang berkontribusi meregangkan pelvis serta area sendi SI, yang berarti akan memperparah inflamasi. Beliau cukup worry bahwa saya tidak akan bisa melahirkan secara normal setelah fusi, dimana saya agak tidak peduli sebenarnya. Setelah semua yang sudah saya lalui, yang penting itu punya anak, cara melahirkannya tidak penting. Saya hanya takut; bagaimana jika rasa sakit itu tetap ada meskipun setelah fusi? Dr. Luthfi menawarkan apa saya mau mencoba memasang titanium yang temporary. Saya belum tahu pasti.

Akhirnya, Dr. Luthfi berkomunikasi lagi dengan Dr. Sugeng. Lalu, menyarankan untuk observasi lagi selama 2 bulan untuk meyakinkan harus fusi atau tidak. Saya berencana akan nerve block satu kali lagi di sendi SI sambil memikirkan fusi.

Dua minggu kemudian, saya melakukan nerve block lagi. Kali ini di sendi facet karena rupanya injeksi steroid hanya bertahan selama dua minggu. Untuk otot piriformis, saya pun disarankan untuk melakukan injeksi botox, yaitu pelemas otot, selama 6 bulan sekali agar syaraf skiatik tidak terganggu.

Teman-teman yang telah menjalani operasi skoliosis, khususnya yang terkoreksi di area lumbar, adakah yang mengalami kasus serupa dengan saya? I’ve been searching everywhere, but apparently I’m the only one for now. If you share the same story as me, I wait for your comment 🙂

At some point, I thought about why problems keep come to me? I suffered from scoliosis for 10 years, fought my ovarian cyst, then struggled an unrealistic pain from post-scoliosis surgery, screw removal, sacroiliac joint arthritis, facet joint syndrome and piriformis syndrome. Facing another truth, I may have to implant another titanium in my SI because it hasn’t responded to every treatment that I’ve tried so hard. Then, I still have to do nerve ablation for my facet joint and botox injection for piriformis regularly.

There were times when I just cried, in my bed, in the bathroom or in phone with my friends. Oftentimes, my emotion is a total chaos.

I used to be a busy bee, filled my schedule every day and felt guilty if I didn’t do anything in a day. I miss that hustle. Seeing my sister rushes every morning and night, go and back from the office. Seeing my friends’ achievement because of their job. And me? I am painful and I take opioid. I always get dizzy, nauseous, and lack of energy. All I want is to take a nap during the day.

Sometimes, it develops a bad mentality in me, fear of missing out. I realize that my pace is slower than before, because of my physical setback. Yet, it’s not true. I have an amazing friend, who reminded me that everyone has their own timeline. Quitting my long hour job to focus on myself, wasn’t a bad decision.

I have been in this position long enough and that proves, ‘what doesn’t kill you makes you stronger’. I have a strong mind to get through this, the problem is just my body. Telling you this story is neither I am whining, nor I am complaining. I just want to make you, whoever experience the same feeling, know that you’re not alone. I used to be anxious to think that I was alone. In fact, I’m not.

Don’t lose hope. I think God works in a mysterious ways. You may have gone so far that you are very tired. You may think to just quit. You never know, maybe by the time you quit, the finish line is just around the corner. Pain, like bad days, is just life happens. Eventually, we all will pass through it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s