Spine Journey: SI Joint Fusion

Hi! How’s life? Kali ini saya ingin bercerita lagi tentang perjalanan tulang belakang saya. Seperti yang bisa kalian tebak dari judul tulisan ini… ya, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan operasi Sacroiliac (“SI”) Joint Fusion. Hari ini adalah hari ke-28 saya dengan tambahan tiga canulated screw di SI joint kanan. Kalau dihitung-hitung, total implant di tubuh saya adalah 18 screws dan 2 rods yang membantu saya agar tetap hidup normal. Operasi kali ini adalah operasi yang bisa dibilang sangat emosional untuk saya. I can say I’ve been through hell to be in this state. I’ve been through a war with myself to go with this decision. 

___

April 2018. Sepulang dari Penang dengan tangan hampa, saya kembali bekerja full time after a half year of hiatus. Saya sangat sangat sangat senang, lebih senang daripada kali pertama saya diterima di JPMorgan Chase, perusahaan impian saya atau saat diterima di investment banking, pekerjaan impian saya. Setengah tahun lalu, sewaktu saya memutuskan untuk resign, adalah waktu terberat di hidup saya. Bisa dibilang waktu itu semacam post power syndrome. Tadinya saya hampir setiap hari lembur, malam hangout dengan teman-teman, akhir pekan diisi dengan olahraga dan training ini dan itu untuk sertifikasi atau persiapan melanjutkan sekolah. Tiba-tiba saya tidak melakukan itu semua. Saya merasa sangat useless.

Memang, kesehatan itu harus diutamakan karena bagaimanapun we can fully alive when we are completely healthy. Saya sadar itu. Semua orang mendukung saya agar tidak bekerja dulu dan fokus pada pengobatan saya. Realitanya tidak semudah itu dijalani. Memang, semua orang bilang we live in our own time and pace so don’t compare yours to other’s. Tapi, saat kita sendiri berada di titik terendah itu, jujur saja sulit. Saya menghabiskan banyak waktu dirumah, istirahat. Sesekali saya pergi dengan teman-teman terdekat saya. You know who you are and I’m grateful to have you in my life. Tapi tidak sering, karena mereka bekerja dan punya kesibukan. Sehari-hari hanya diisi dengan physio pilates dengan Paula atau ke rumah sakit. Saya mencoba mempersiapkan sekolah lagi, tapi setiap orang-orang di sekitar bertanya kapankah rencana untuk berangkat. I didn’t have answer because I waited myself to be completely healthy and I didn’t know when it is.

Saat itu adalah awal mula saya diberi oxycodone 10mg (narcotic pain reliever) untuk painkiller, yang dalam beberapa minggu saja sudah naik dosisnya menjadi 15mg. Mengapa akhirnya saya sampai ke titik itu? Jika flashback lagi ke tulisan saya sebelumnya, sakit yang saya alami itu sulit di-trace. Saya adalah pasien pertama dokter saya yang mengalami sakit hanya di low back pain kanan yang menjalar sampai ke kaki pasca operasi skoliosis. I can say he’s one of the best, that’s why I chose him. Tidak ada yang salah pada operasi skoliosis. Sudah semua cara kami lakukan tapi tidak ada yang berhasil. Dokter lain dan pilates instructor saya yang one of the best pun belum menemukan jawabannya. Saya sering sekali dispute dengan Dr. Luthfi soal darimana sumber sakit ini. Kalau dipikir-pikir, I was pretty stubborn to him, but he was so patient.

Kembali lagi soal oxycodone. Karena tidak ada obat dan tindakan yang berhasil, maka untuk meredam rasa sakit saya yang akut, saya mengkonsumsi oxycodone setiap hari. Pada bulan Januari 2018, saya dan Dr. Luthfi sudah sepakat untuk melakukan tindakan SI Joint Fusion karena sepertinya, sumber yang paling parah adalah dari sacroiliac. Tetapi, kami harus menunggu impor alat dan implant karena tidak tersedia di Indonesia.

Pada awalnya, badan saya sulit sekali beradaptasi dengan reaksi narkotik. Rasanya setiap hari energi saya habis. Saya merasakan kantuk dan lelah yang sangat. Ditambah apabila obatnya sudah bereaksi, I’m literally high. Rasanya seperti saat operasi skoliosis dulu, saya mengantuk terus karena morphine yang terus-terusan masuk ke badan saya. Bahkan saya bisa tertidur saat mengerjakan mock test di kelas atau saat isi bensin, sampai mobil yang mengantri ribut mengklakson saya. Saya bisa parkir di pinggir jalan saat saya menyetir karena saya merasa under influenced dan saya butuh tidur. Dua bulan pertama, saya benar-benar sangat sulit beraktivitas.

Bulan-bulan berikutnya, sakit saya bertambah parah. Dosis 15mg, perlahan menjadi 20mg dan sampai di 30mg per hari pada bulan April 2018, di bulan pertama saya kembali bekerja full time. I’m not spoiled, a girl has to pay bills and meds, a girl has to hustle. Saya tahu saya tetap bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik meskipun saya under influenced. Sebelum bekerja full time, saya sudah test drive dengan mengerjakan suatu konsultasi M&A. Justru, saat sudah mencapai dosis setinggi itu, otak saya sepertinya bisa berfungsi lebih baik saat sudah mengkonsumsi obat. Tidak ada masalah sama sekali saat saya sedang bekerja, rasanya saya sangat konsentrasi. Efek mengkonsumsi oxycodone seperti obat penenang, rasanya badan hangat dan lebih tenang, meskipun ada saat beberapa menit saya harus adjust karena ada efek high. Hidup saya tergantung dengan obat itu. Drugs didn’t control me, I won over it.

Beberapa hal yang menjadi masalah adalah mobilisasi dan efek samping obat. Setiap hari, hal terberat yang harus saya lakukan adalah bangun dari tempat tidur. Saat saya membuka mata, rasa sakit yang menjalar di kaki kanan saya sangat akut. Saya hanya bisa pergi ke kantor setelah oxycodone bereaksi. Beberapa jam setelah efek penenang hilang, saya merasakan mual yang parah, lebih mual daripada teman-teman saya yang sedang hamil. Bayangkan saja, jika sedang makan dengan teman saya yang hamil, I could vomit 2-3 time while they didn’t. Akhirnya, Dr. Luthfi meresepkan saya Mediamer B6 untuk menahan mual. Saya bisa hanya makan lima sendok sehari dan hanya minum air mineral. Pada bulan Agustus 2018, genap satu tahun saya hidup dengan oxycodone, berat badan saya turun drastis sebanyak 10 kg. Konsumsi opioid sebanyak itu pun tentunya mengakibatkan konstipasi sehingga saya perlu dibantu oleh obat-obatan laxative.

Saat itu pula, kesehatan saya semakin memburuk. Setelah satu tahun, oxycodone 30mg sudah kurang efektif menahan rasa sakit saya. Saya pun merasakan gatal dan alergi yang cukup mengganggu. Selain itu, jantung saya berdebar sangat kencang setelah mengkonsumsi oxycodone. I reminisced I often rushed into Dr. Luthfi’s practice room in the middle of the night because I felt terribly miserable. Heart rate saya bisa mencapai 115 bpm, saat orang dewasa normal berkisar antara 60-100 bpm. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap hari, karena saya selalu terbangun atau bermimpi buruk saat tidur dalam pengaruh oxycodone. I cried my heart out every single night when I tucked myself under the blanket.

Saya tahu itu adalah pertanda saya harus segera melakukan fusi. Permasalahannya adalah alat dan implant SI joint fusion mengalami kendala pada proses impor. Karena saya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, maka Dr. Luthfi mengusulkan untuk memasang canulated screw temporary yang sebenarnya bisa saja menyangga SI joint secara permanen.

___

24 Agustus 2018. Kali ke-sebelas saya masuk ke ruang operasi, setelah 2x operasi tulang belakang dan 8x steroid injection serta nerve blocks. Perasaan saya sudah biasa saja saat itu. Saya hanya sedikit berharap bahwa operasi selanjutnya adalah sectio Caesarea suatu saat nanti apabila saya hamil. That day, I gave up my ability in normal delivery for my future children. SI joint saya sudah dikunci. It doesn’t really matter, I don’t even care.

SI Joint Fusion

Saat terbangun dari pengaruh anestesi, saya merasakan rasa sakit yang hebat di SI joint saya. Disamping tempat tidur saya, Dr. Luthfi menunggu. I stared at him like… we finally almost reach the finish line. I realised I was difficult, yet I was stubborn and annoying. He kept take care of me anyway. When other doctors gave up, he didn’t. He has been my 911. His efforts were huge. He gave me faith. Ternyata saya baru sadar, Allah memang memberi cobaan yang berat, tapi diberikan juga cara untuk menghadapinya. Jalannya bisa dari manapun. Hari itu saya menangis terus di kamar, masih belum habis pikir. Saya sudah berkali-kali melakukan tindakan, tidak pernah tidak merasa sakit selama bertahun-tahun, bergantung pada opioid selama satu tahun dan masih sempat bekerja. My crazy self has done this.

Hari ini hampir sebulan pasca operasi, tidak ada yang ganjil dengan adanya implant di SI joint. Rasa sakitnya masih belum hilang 100%. Saya masih bergantung pada oxycodone meskipun hanya 10-15mg. Minggu depan, akan diadakan meeting dengan spine team untuk membahas lebih jauh sumber sakit saya yang lainnya, karena sudah pasti bukan hanya dari SI joint saja.

When I looked back, I can’t believe I’ve survived. Saya jadi semakin bersyukur, saya masih bisa hidup dengan normal sampai detik ini. Selalu diberikan jalan oleh Allah. I was a hard to please person. Sekarang saya bersyukur terhadap hal-hal kecil. Saya bersyukur masih bisa pergi ke kantor, tidak hanya terbaring di tempat tidur. I love my job more. Saya bersyukur masih bisa bertemu teman-teman saya dan pergi kemanapun yang saya mau tanpa harus ada di kursi roda lagi seperti tahun lalu. Sure, I lost time, I lost money, I lost several abilities and my pain is still linger, but one thing for sure I become a more grateful person. A lot of people out there is on a battle worse than me. Always be grateful…

IMG_2850

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s